Home Artikel aqiqah Tahnik, Apakah Cuma Boleh dilakukan oleh Rasulullah saja?

Tahnik, Apakah Cuma Boleh dilakukan oleh Rasulullah saja?

4
0
Tahnik

Berkaitan dengan tahnik, sebagian orang mempunyai asumsi kalau tahnik cuma spesial dicoba oleh Rasulullah shallallahu‘ alaihi wa sallam, serta tidak berlaku buat umatnya. Perihal ini berkaitan dengan asumsi kalau tahnik merupakan mengambil berkah dengan air liur, yang tidak boleh dikerjakan kecuali lewat air liur Nabi shallallahu‘ alaihi wa sallam.

Tahnik Bukan Kekhususan Nabi shallallahu‘ alaihi wa sallam

Berkaitan dengan perihal ini, satu kaidah berarti yang wajib dimengerti merupakan hukum asal perbuatan yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu‘ alaihi wa sallam merupakan syariat, artinya pula berlaku buat umatnya. Barangsiapa yang mengklaim kalau sesuatu amal perbuatan cuma spesial berlaku untuk Nabi shallallahu‘ alaihi wa sallam serta tidak berlaku untuk umatnya, hingga harus menurutnya menampilkan dalil spesial tentang klaim tersebut. Serta dalam perihal ini tidak ditemukan terdapatnya dalil spesial. Sehingga hukum tahnik kembali ke hukum asalnya, ialah berlaku sebagi syariat buat umatnya.

Serta inilah yang diamalkan serta ditegaskan oleh para ulama rahimahumullah dengan membuat judul bab yang menampilkan kalau perihal ini suatu yang diajarkan. Al- Bukhari rahimahullah membuat bab dalam kitab Shahih dia,

بَابُتَسْمِيَةِالمَوْلُودِغَدَاةَيُولَدُ،لِمَنْلَمْيَعُقَّعَنْهُ،وَتَحْنِيكِهِ

“ Bab berikan nama balita pada pagi hari sehabis dilahirkan serta ini berlaku untuk anak yang tidak diaqiqahi serta pula mentahniknya”( Shahih Al- Bukhari, 7/ 83).

Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan,

ويستحبتحنيكالصبي

Serta diajarkan mentahnik balita yang baru lahir”( Al- Iqna’, 1/ 179).

Ibnul Qayyim rahimahullah meriwayatkan suatu cerita dari Ummu Walad Ahmad bin Hanbal, ialah budak wanita Imam Ahmad rahimahullah yang disetubuhi oleh dia sehingga menciptakan generasi. Dalam syariat Islam, perihal ini diperbolehkan.

Ummu Walad menggambarkan,

لماأَخذبِيالطلقكَانَمولَايَنَائِمافَقلتلَهُيَامولَايَهُوَذَاأَمُوتفَقَالَيفرجاللهفَمَاهُوَإِلَّاأَنقَالَيفرجاللهحَتَّىولدتسعيدافَلَمَّاوَلدتهقَالَهاتواذَلِكالتَّمْرلتمركَانَعندنَامنتمرمَكَّةفَقلتلأمعَليّإمضغيهَذَاالتَّمْروحنكيهفَفعلتوَاللهأعلم

Kala saya telah merasakan sakit kala hendak melahirkan, saya memandang tuanku( ialah Imam Ahmad) masih tertidur. Saya mengatakan kepadanya,‘ Wahai tuanku, saya nyaris mati( artinya, hendak melahirkan, pen.).’ Imam Ahmad mendoakan,‘ Mudah- mudahan Allah memudahkanmu.’ Ummu Walad mengatakan,‘ Belum berakhir Imam Ahmad mendoakan, anakku lahir serta diberi nama Sa’ id.’ Sehabis saya melahirkan Sa’ id, Imam Ahmad mengatakan,‘ Bawakan kurma ke mari.’ Ialah kurma Mekah yang kami miliki. Setelah itu Imam Ahmad mengatakan kepada Ummu Walad,‘ Kunyahlah kurma tersebut serta tahniklah si balita.’ Kemudian saya juga mentahniknya”( Tuhfatul Mauduud, 1/ 33).

Cerita ini jelas menampilkan uraian Imam Ahmad rahimahullah kalau tahnik itu bukan spesial untuk Nabi shallallahu‘ alaihi wa sallam sehingga dia juga mempraktikkannya. Cerita ini pula menampilkan kalau tidak kenapa bila si bunda yang mentahnik balita, tidak wajib si ayah.[Bersambung]

Sumber: muslim.or. id